on April 1, 2009 by admin in Advetorial Pendidikan, edisi 01, Comments (0)

VEDC Malang : Center of Excellence

Pasar bebas atau persaingan global baru tiba tahun 2020 nanti. Namun denyut-denyutnya sudah terasa. Dalam benak kita mungkin bertanya-tanya, sudah siapkah SDM Indonesia menyambutnya. Tentu bukan sekedar menyabut sebagai penerima arus globlalisasi belaka, lebih dari itu, adalah sebagai negara yang menyambut dengan peran aktif, bahkan mampu mendahului dalam setiap gerak persaingan.
Sejenak kita patut prihatin, tat kala Kompas, 16 Agustus 2007 mendendang tentang krisis ekonomi yang melanda negeri ini. Saat itu, Kompas, media harian paling kesohor di Indonesia menuliskan bahwa krisis ekonomi yang dimulai awal tahun 1997 telah membawa keterpurukan bagi kemunduran pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada era tahun 1986-1996 pertumbuhan sektor industri mencapai 20,3%, namun pada tahun 1997-2006 rata-rata tingkat pertumbuhan sektor industri tinggal 6,3%. Selain penurunan sektor industri, ditandai pula dengan meningkatnya angka kemiskinan yang mencapai 39 juta jiwa atau setara dengan jumlah penduduk Malaysia.
Keprihatinan ini juga sempat di utarakan Dr. Bambang Triono MM, Kabid Fasningkom P4TK VEDC Malang yang lebih menyoal perihal perhatian luar negeri terhadap tenaga kerja Indonesia. Pada bulan Maret 2008 lalu Dr. Bambang Triono MM mendampingi Walikota Malang beserta beberapa pejabat pendidikan di Kota dingin itu berkunjung ke Jepang . Kata Bambang, demikian Dr. Bambang Triono MM biasa disapa, tenaga kerja Indonesia di Jepang mendapat gaji 100 Yen dalam sebulan, sedangkan tenaga kerja asli Jepang mendapat gaji dua kali lipatnya yaitu 200 Yen sebulan.
Berangkat dari keprihatinan itulah, kiranya bangsa Indonesia perlu segera bangkit membenahi kualitas SDMnya. Salah satu jalur handal yang perlu dibenahi dalam hal itu tak lain adalah pendidikannya. Jepang pun juga bangkit dari keterpurukan berkat keseriusannya menggarap pendidikan, dan hasilnya, Jepang menjadi negara yang cukup disegani dunia.
Dalam menggarap pendidikkan, M.Sobari Sutikno, mengutip tulisan Fauzan (1999) yang mengungkapkan bahwa pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk membentuk manusia berkualitas dan mampu bersaing, disamping harus memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik. Lebih-lebih Richard Crawford menyebut abad yang super dinamis ini sebagai “Era of Human Capital” Richard Crawford, In The Area Of Human Capital, 1991).
Karenanya pulalah, P4TK VEDC Malang sebagai instusi pendidikan merasa punya tanggungjawab besar mencetak SDM handal sesuai kebutuhan zaman. Sebagai salah satu dari tiga P4TK bidang teknologi di Indonesia (Malang, Bandung dan Medan) dengan konsentrasi melakukan permak kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, terlihat VEDC Malang kian berinovasi dalam pengembangannya. “Kami berkomitmen menjadikan VEDC Malang sebagai Center of Axelent atau pusat training terbaik,” terang Drs. Suwarno, M.M (51) Kepala Bagian Umum VEDC Malang. “ Orientasi tersebut tidak hanya berskala nasional tetapi juga internasional,” tambah Suwarno.
Dekat dengan industri
Bukan isapan jempol apa yang diungkap Suwarno, karena VEDC (demikian P4TK VEDC Malang akrab disebut) memang memiliki jaringan luas, dalam dan luar negeri. Saat ini saja, kata Suwarno kurang lebih sudah ada 400 industri (dalam dan luar negeri) yang bermitra dengan VEDC Malang.
Senada dengan Suwarno, Dr. Imam Sutadji, Kepala Pusat P4TK VEDC Malang juga berkomitmen melebarkan kemitraan dengan berbagai instansi dalam dan luar negeri. “ Selain memfungsikan tupoksi P4TK VEDC Malang secara maksimal sebagai lembaga pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan, saya juga akan melakukan perluasan jejaring dengan stakeholder dalam dan luar negeri,” tandas Imam peraih Doktor dari Kebijakan Publik Universitas Indonesia itu.
Merakit jaringan dengan industri ditegaskan oleh Suwarno menjadi kebutuhan VEDC. Alasannya, karena industri merupakan tempat riil perkembangan Iptek dan di tempat itulah segudang ilmu tersedia. Melalui industri akan diketahui lebih jelas standarisasi kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan, dan melalui industri pulalah, VEDC Malang mengajak para pendidik dan tenaga kependidikan membangun ketajaman kompetensi, yang kemudian ditransfer ke sekolah.
Dengan tugas melaksanakan aktivitas pengembangan skill dan managerial bagi pendidik dan tenaga kependidikan, P4TK VEDC Malang kini mengembangkan beberapa kegiatan inti, diantaranya melalui Program TC (Test Centre) yang berbasis training centre dengan sertifikat nasional dan internasional. TF (Teaching Factory), pendidikan dengan pendekantan proses kerja industri. WS (Work Station) merupakan cabang VEDC Malang untuk melaksanakan kebutuhan berbasis lokal. WS berkolaborasi dengan Pemda, industri nasional serta industri lokal. FE (Pendidikan Formal D4) kerjasama dengan International Join Program Stuttgard Jerman.
Dalam bidang TC, terdapat beberapa lembaga sertifikasi yang telah bekerjasama dengan P4TK VEDC Malang, diantaranya adalah: LSP Geometika dengan jenis training Survey dan Pemetaan; PT. Propan Raya dengan jenis training Finishing Kayu; PT. Boral Jayaboard australia dengan jenis training Finishing Papan Gipsum; Bosch Rexroth Jerman dengan jenis training Hidrolik; PT.FESTO Indonesia dengan jenis training Pnematik; VEDC Malang dengan jenis training KKPI; LSP ATMI Solo dengan jenis training Teknisi Mesin Perkakas; LSP Teknisi Otomotive dengan jenis training Tune Up; LPKJN (Lembaga Pengembangan Konstruksi Jasa Nasional) dengan jenis training Jasa Konstruksi; Cisco dengan jenis training Kompter dan Jaringan; PHRI dengan jenis training Room Divition.
TF (Teaching Factory) sebagai salah satu kegiatan inti di P4TK VEDC Malang lebih menekankan pada pendidikan dengan pendekatan kerja industri. Dibidang ini, instrktur P4TK VEDC Malang melakukan perencanaan dan pembuatan alat bantu pengajaran (teaching aid) yang inovatif dan bisa diimplementasikan sesuai dengan kebtuhan jaman.
Workstation pendongkrak mutu SDM Daerah
Selain program TC dan TF, VEDC Malang masih memiliki satu lagi program andalan, yaitu WS atau Worstation. WS (Work Station) didesain sebagai wahana P4TK VEDC Malang sebagai pelaksana program pelatihan berbasis lokal. Melalui WS ini, P4TK VEDC Malang berupaya membangun lembaga fungsional pelatihan bertaraf internasional dalam bentuk training dan sertifikasi yang berada dan dimiliki oleh daerah. Jika tahun 1007 lalu VEDC masih berhasil membentuk 9 WS, kini jumlah WS sudah menjadi 14 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Diantaranya di Gorontalo, Bontang, Samarindah, Padaan Pasuruan, Mataram, Jaya Pura, Tarakan, Batam dan Meulaboh dan lain-lain. Program WS dilatarbelakangi perlunya SDM daerah untuk mensinergiskan dengan kualitas SDM di pusat. “Dan tidak mungkin selamanya layanan hanya dilakukan di VEDC Malang,” terang Suwarno.
Menyambung ungkapan Suwarno, Ir. Giri Suryatama, Sekretaris Ditjen PMPTK Depdiknas yang hadir dalam acara Workshop “Singkronisasi Program Dalam Pemberdayaan Pendidian Formal dan Non-Formal Daerah” di VEDC Malang tanggal 10 Mei 2008, juga berharap agar kehadiran WS di daerah juga mampu menjadi solusi proses penggenjotan kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan di daerah. “Jumlah LPMP dan P4TK kita terbatas, hanya 30 LPMP dan 12 P4TK, sedangkan jumlah guru kita sekitar 2,7 juta, butuh waktu lama kalau kompetensinya diproses di LPMP dan P4TK saja. Makanya Worksattion ini menjadi salah satu solusinya,” terang Ir. Giri Suryatama.
Kualitas WI
Untuk mendukung kualitas peserta pelatihan, VEDC Malang benar-benar memperhatikan kualitas pengajar atau Widyaiswaranya. Selain dari 118 WI (widyaiswara) yang dimiliki 50% sudah mengantongi ijasah S2, mereka juga dibekali ketrampilan hasil training di beberapa industri dalam dan luar negeri. “Hampir semua WI sudah kita magangkan di luar negeri, di Jerman saja pembekalan dilakukan sampai 1,5 tahun,” terang Suwarno.
Setelah mendapat pembekalan ketrampilan dari industri di dalam dan luar negeri, VEDC Malang masih selektif dalam menentukan WI yang ditugaskan untuk mengajar teori. Tidak sembarangan WI diperbolehkan mengajar teori. Hanya WI yang prakteknya bagus yang diberi ijin sebagai pengajar teori. “Kalau prakteknya kurang bagus, ketika ngajar teori pasti akan ngarang-ngarang, itu yang harus kami hindari,” tandas Suwarno. VEDC juga melakukan benchmarking kompetensi peserta pelatihan yang ada di VEDC dengan peserta pelatihan yang datang dari luar negeri. Bentuk kemitraan yang dilakukan dalam hal ini adalah dengan diberikannya kesempatan bagi mahasiswa luar negeri untuk menyelesaikan Tugas Akhir perkuliaan di VEDC Malang. “Seperti saat ini, ada sekitar 10 Mahasiswa dari Tettnang yang sedang menyelesaikan Tugas Akhir, waktunya selama 1,5 sampai 2 bulan,” terang Suwarno.

Tags: ,

No Comments

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CAPTCHA Image