on May 1, 2009 by admin in Profil Tauladan, edisi 01, Comments (0)
Mengawal perkembangan anak melalui Full day school jadikan Endang Supadminingsih SP, MP meraih predikat Kepala TK Berprestasi I Nasional
Universitas Otago di Dunedin, Selandia Baru, pada tahun 1972 pernah mengumpulkan sebanyak 1.000 anak yang dijadikan sampel penelitian kerpibadiannya sejak usia 3 tahun. Anak-anak itu diteliti lagi pada usia 18 tahun dan 26 tahun. Hasilnya, ternyata anak yang dulu didiagnosa uncontrollable toddlers (sulit diatur, pemarah, dan pembangkang), ketika dewasanya menjelma menjadi remaja yang bermasalah, agresif, dan mempunyai setumpuk persoalan dalam pergaulan sosial. Sebaliknya anak-anak yang saat kecil masuk kategori well-adjusted toddlers (jiwanya sehat), setelah dewasa jadi orang yang berhasil dan berjiwa sehat. (Ratna Megawangi dalam Saiful Anam, Jangan Remehkan Taman Kanak-Kanak Taman Yang Paling Indah, 2007).
Dalam buku tersebut, juga dikutip tulisan Erick Jansen, yang mengungkapkan bahwa hubungan antara seorang anak dengan yang merawatnya seringkali menjadi penentu apakah anak tersebut akan menemui hambatan-hambatan yang berarti dalam belajar atau tidak. Erick juga mnegungkapkan bahwa anak yang sedang tumbuh juga harus mendapat beragam input yang merangsangnya, termasuk banyak latihan memegang benda-benda. Juga mempelajari bentuk, berat dan gerakan mereka.
Jika demikian, sudah tentu anak-anak usia emas itu perlu mendapat kawalan ketat dalam pertumbuhannya. Baik oleh orang tua, guru maupun orang-orang dilingkungan sekitar. Karena, bukan tidak mungkin, stimulus-stimulus baik yang ditanamkan orang tua atau guru akan menguap begitu saja, tatkala dilain waktu si anak mendapat guyuran pengaruh lingkungan yang gamang mempengaruhinya. Dan sudah saatnya, jika orang tua tak sepenuhnya percaya dan pasrah anak-anaknya diasuh oleh pembantu. Karena jika si pembantu tak paham bagaimana mengasuh anak usia dini dengan benar dan baik, bisa saja pertumbuhan karakter anak banyak dipengaruhi oleh pembantu, bukan orang tua atau guru di sekolah.
Tanggungjawab sebagai pengawal perkembangan anak inilah yang kemudian begitu dipegang oleh Endang Supadminingsih S.P, M.P (34) Kepala TK Unggulan Al-Ya-lu Malang. Merasa tak ingin kehilangan masa emas anak-anak di usia emas, maka Endang Supadminingsih yang kelahiran Magetan Jawa timur itu mengkonsep TK Unggulan Al-Ya’lu Malang secara full day school atau sekolahs ehari penuh. Meskipun konsep full day school sejauh ini masih jarang diterapkan di Indonesia. Untuk jenjang SD, SMP bahkan SMA saja sistem full day school di Indonesia masih banyak dipertentangkan. Apalagi untuk sekelas TK. “Masyarakat terlalu kawatir dan takut dengan full day school, yang penting cara penerapannya tepat,” tandas Endang.
Ketika masyarakat masih digelayuti keraguan akan full day school, justru Endang semakin mantap sistem itu di terapkan di Al-Ya’lu. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang Wanita ini pun membawa konsep full day school di usia dini pada ajang kompetisi kepala sekolah TK se-Indonesia tahun 2007 lalu. Hasilnya? Endanglah jawaranya. Ia terpilih sebagai Kepala TK Berprestasi I tingkat Nasional. Secara otomatis prestasi Endang ini juga mnunjukkan kemenangannya muali tingkat kecamatan, kota hingga propinsi. Berkat prestasinya itu Endang juga mendapat Satya Lencana Pendidikan dari Presiden susilo Bambang Yudhoyono.
Makin mantap dengan prestasi, makin mantap Endang menjalani profesinya, dan optimis TK Al-Ya’lu Malang akan sebenar-sebanrnya menjadi sekolah berwawasan internasional serta menjadi rujukan sekolah lain, lokal, nasional, bahkan internasional. Namun, enjoynya Endang dengan profesinya bukan lantas ia melalaikan tugas-tugas keseharian sebagai ibu rumah tangga. “Kuarga itu sentral bagi kami, sehingga tugas sebagai ibu rumah tangga tidak bisa ditinggalkan,” tutur Endang.
Tags: Profil Tauladan







No Comments
Leave a comment