on August 18, 2009 by BINT_edu in Metodologi Pembelajaran, edisi 01, Comments (1)

Belajar Lebih Menyenangkan dengan Animasi

Lembaga riset dan penerbitan komputer, yaitu Computer Technology Research (CTR), menyatakan bahwa orang hanya mampu mengingat 20% dari yang dilihat dan 30% dari yang didengar. Tetapi orang dapat mengingat 50% dari yang dilihat dan didengar dan 80% dari yang dilihat, didengar dan dilakukan sekaligus.

Manusia mempunyai berbagai cara belajar diantaranya dengan mendengarkan, membaca, melihat dan mendengarkan, mengamati lingkungan. Pada mulanya, manusia memanfaatkan alam sekitar untuk menujang proses belajar, hingga kemudian manusia mengenal dan memanfaatkan teknologi untuk belajar.
Perkembangan teknologi informasi memang telah masuk dalam setiap bidang kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Dalam dunia pendidikan teknologi informasi salah satunya dimanfaatkan sebagai media yang menunjang proses pembelajaran.
Penggunaan Animasi adalah salah satu contoh pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Animasi menjadi pilihan untuk menujang proses belajar yang menyenangkan dan menarik bagi siswa dan juga memperkuat motivasi, dan juga untuk menanamkan pemahaman pada siswa tentang materi yang diajarkan. Animasi yang pada dasarnya adalah rangkaian gambar yang membentuk sebuah gerakan memiliki keunggulan dibanding media lain seperti gambar statis atau teks.
Keunggulan animasi adalah kemampuannya untuk menjelaskan suatu kejadian secara sistematis dalam tiap waktu perubahan. Hal ini sangat membantu dalam menjelaskan prosedur dan urutan kejadian. Meskipun disisi lain kemampuan memori otak manusia sangat berpengaruh dalam keefektifan penggunaan animasi.
Selain kemampuan memori otak, pengetahuan awal (prior knowledge) mengenai konsep yang akan dijelaskan juga mempengaruhi tingkat keefektifan animasi. Bagi pemula yang tidak memiliki pengetahuan awal akan cenderung untuk lebih memperhatikan perubahan animasi yang menarik secara perseptual dibandingkan dengan perubahan yang penting dalam memahami materi. Lowe (2003).
Bagaimana merancang animasi dalam pembelajaran
Dina Utami, S.T dalam menyatakan ada tiga jenis format animasi: pertama, Animasi tanpa sistem kontrol, animasi ini hanya memberikan gambaran kejadian sebenarnya (behavioural realism), tanpa ada kontrol sistem. Misal untuk pause, memperlambat kecepatan pergantian frame, Zoom in, Zoom Out, bisa jadi animasi terlalu cepat, pengguna tidak memiliki waktu yang cukup untuk memperhatikan detil tertentu karena tidak ada fasilitas untuk pause dan zoom in.
Kedua, Animasi dengan sistem kontrol, animasi ini dilengkapi dengan tombol kontrol. Hal ini memungkinkan pengguna untuk menyesuaikan animasi dengan kapasitas pemrosesan informasi mereka. Namun kekurangannya, terletak pada pengetahuan awal (prior knowledge) atas materi yang dipelajari menyebabkan murid tidak tahu mana bagian yang penting dan harus diperhatikan guna memahami materi dan yang tidak. Seringkali murid lebih memperhatikan bagian yang tampak lebih menonjol secara perseptual.
Ketiga, Animasi manipulasi langsung (Direct-manipulation Animation (DMA)). DMA menyediakan fasilitas untuk pengguna berinteraksi langsung dengan control navigasi (misal tombol dan slider). Pengguna bebas untuk menentukan arah perhatian dan kejadiannya dapat diulang.
Menurut teori animasi mental (Hegarty, Kriz, & Cate, 2003), murid yang diperlihatkan frame-frame dalam animasi tetap perlu menganimasikan secara mental bagaimana sistem bekerja. Animasi mental tersebut mengarah kepada pemrosesan informasi yang lebih baik dan pemahaman. DMA memungkinkan pengguna untuk berinteraksi langsung secara aktif dengan animasi, oleh karena itu akan memberikan dukungan kepada murid untuk membangun model mental dinamis atas proses yang terjadi.
Dari sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 32 siswa kelas 7 di sebuah SMA di New York untuk membandingkan tingkat efektifitas 3 jenis animasi diatas. Materi yang diberikan adalah konversi energi. Pertama dilakukan survey atas pegetahuan awal siswa tentang materi, kemudian tiap siswa diberi bahan bacaan tentang konsep yang akan dipelajari. Kemudian murid-murid dibagi menjadi 3 kelompok yang masing-masing menggunakan format animasi berbeda. Waktu yang diberikan untuk melihat dan berinteraksi dengan animasi adalah 5 menit. Pengukuran hasil belajar dilakukan dengan menulis rangkuman, menggambarkan diagram proses dan memecahkan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kelompok yang menggunakan DMA menunjukkan hasil belajar paling baik. Kelompok yang menggunakan ilustrasi tetap menunjukkan hasil paling baik dalam menggambar diagram proses.
Mayer (2001) mengatakan, pembelajaran menggunakan multimedia yang berarti, memerlukan pembelajaran aktif murid atas materi instruksional; hanya dengan memperlihatkan animasi saja mungkin tidak memberikan bantuan berarti bagi murid untuk belajar. Terlebih, aspek dinamis dari berbagai elemen dalam animasi yang terkontrol akan membutuhkan lebih banyak pemrosesan kognitif saat mereka berusaha untuk mempresepsi dan mengkomprehensi isi animasi. (Lowe, 2003).
Tantangan saat ini adalah, bagaimana merancang Animasi dalam pembelajaran yang efektif, dan efisien dalam biaya, dengan memeperhatikan kualitas pendidik, sumber belajar maupun kemampuan pengetahuan awal siswa dan proses pembuatan Animasi agar tujuan pembelajaran dengan Animasi tercapai.

Tujuan Pembelajaran Melalui Animasi Multimedia

  1. Kualitas seperti penguasaan materi, Penggunaan perangkat lunak multimedia dalam proses belajar mengajar akan meningkatkan efisiensi, meningkatkan motivasi, memfasilitasi belajar aktif, memfasilitasi belajar eksperimental, konsisten dengan belajar berpusat pada siswa, dan memandu untuk belajar lebih baik
  2. Waktu yang singkat untuk mencapai tujuan tertentu dalam belajar. Multimedia mampu mempercepat pemahaman sehingga belajar menjadi lebih singkat seperti telah diungkapkan pada hasil penelitian pada poin satu di atas.
  3. Efisiensi biaya, Bahan pembelajaran lebih sering dalam bentuk digital yang disimpan dalam disk. Sebuah CD-ROM bisa menyimpan sekitar 680 MB data, setara dengan 250.000 halaman buku atau 200 buku atau 2 rak buku. Harga Compact Disc tidaklah mahal, sementara mampu menyimpan banyak data, maka CD-ROM menjadi salah satu media pilihan termurah untuk menerbitkan berbagai aplikasi multimedia di abad 21.

Tags:

1 Comment

  1. lost

    August 1, 2010 @ 2:23 pm

    Think of how retarded the average person is, and realize halve of them are stupider than that.

    Sent from my Android phone

Leave a comment

XHTML: Allowed tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CAPTCHA Image